Setiap kali kita membicarakan masa depan bangsa, bayangan kita kerap tertuju pada gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, jaringan-jaringan jalan tol yang membentang luas, atau lompatan teknologi digital yang kian masif. Namun, ada satu fondasi paling mendasar yang sangat menentukan apakah seluruh kemajuan itu bisa bertahan untuk waktu yang lama atau tidak, yaitu kesehatan masyarakatnya. Sebuah negara tidak akan mampu berdiri tegak dengan ekonominya yang megah jika benteng pertahanan kesehatannya sangat rapuh.

Memasuki usia kemerdekaan yang ke-81, refleksi mendalam perlu kita arahkan pada fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan lanjutan di negara kita tercinta ini. Slogan-slogan “Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat” bukanlah sekadar untaian kata indah dalam spanduk-spanduk peringatan Hari Kemerdekaan. Ia seyogyanya adalah panggilan aksi (call to action) yang amat mendesak. Salah satu urat nadi utama untuk mewujudkannya adalah melalui revitalisasi rumah sakit secara bertahap dan menyeluruh; mulai dari fisik, teknologi, sistem tata kelola, peningkatan kualitas kompetensi SDM, hingga empati pelayanannya.


Rumah Sakit Lebih dari Sekadar Tempat Mengobati Orang yang Sakit

Selama berdekade-dekade, stigma rumah sakit di mata masyarakat kita masih sangat pasif. Rumah sakit kerap dipandang sebagai tempat yang “menakutkan”, bau antiseptik yang menyengat, penuh antrean panjang yang melelahkan, dan hanya akan dikunjungi ketika seseorang sudah terbaring tak berdaya. Paradigma ini perlahan harus kita ubah.

Revitalisasi rumah sakit tidak boleh diartikan sempit sekadar mengecat ulang dinding kusam atau mengganti papan nama menjadi layar-layar LED yang lebih modern. Revitalisasi rumah sakit dalam konteks ini adalah sebuah upaya transformatif untuk menjadikan rumah sakit sebagai pusat promosi kesehatan, pencegahan penyakit, dan penyembuhan terpadu yang humanis.

Mengapa revitalisasi ini menjadi begitu krusial pada saat-saat ini?

  • Perubahan Pola Penyakit (Transisi Epidemiologi): Indonesia saat ini menghadapi beban ganda penyakit (double burden of disease). Di satu sisi, penyakit menular masih ada, tetapi di sisi lain, Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti stroke, jantung, diabetes melitus, dan kanker angkanya melonjak drastis pada beberapa tahun ke belakang ini. PTM saat ini membutuhkan penanganan medis jangka panjang, dengan teknologi-teknologi medis yang up to date dan lebih presisi.
  • Pemerataan Akses Layanan: Ketimpangan fasilitas kesehatan antara kota-kota besar di Pulau Jawa dan daerah-daerah terpencil, perbatasan, serta kepulauan (DTPK) masih menjadi tantangan nyata bagi negara seluas Indonesia. Karenanya revitalisasi ini nantinya harus mampu menjangkau seluruh pelosok negeri, agar standar keselamatan pasien (patient safety) dapat merata.
  • Kemandirian Kesehatan Nasional: Ketergantungan kita pada fasilitas milik luar negeri atau alat kesehatan impor dapat dikurangi jika rumah sakit domestik ditingkatkan kualifikasinya, hingga nantinya berstandar internasional.


Pilar Utama Revitalisasi Rumah Sakit Masa Kini

Untuk menciptakan rumah sakit yang benar-benar siap menopang kesehatan masyarakat, terdapat empat pilar penting yang wajib disentuh dalam proses revitalisasi rumah sakit, yaitu:

  • Modernisasi Infrastruktur dan Teknologi Medis. Teknologi dalam dunia medis berkembang dengan kecepatan yang eksponensial. Revitalisasi fisik harus berjalan beriringan dengan adopsi peralatan diagnostik modern. Pengadaan alat canggih seperti CT-Scan beresolusi tinggi, MRI, hingga fasilitas cath lab untuk tindakan jantung di rumah sakit daerah bukan lagi menjadi sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan mendasar. Selain itu, digitalisasi sistem melalui Integrasi Rekam Medis Elektronik (RME) yang terhubung secara nasional memungkinkan para dokter melihat riwayat kesehatan pasien secara akurat dan lebih cepat. Hal ini meminimalkan risiko kesalahan penanganan (medical error) serta mempercepat proses pelayanan dari fase pendaftaran hingga pengambilan obat.
  • Transformasi Kompetensi dan Empati SDM Kesehatan. Sehebat dan semahal apa pun teknologi yang dimiliki sebuah rumah sakit, penentu terbesar akan kesuksesannya tetaplah manusia di baliknya. Revitalisasi SDM haruslah fokus pada dua hal utama: peningkatan kapasitas teknis dan pembenahan budaya pelayanan. Tenaga medis (dokter, perawat, apoteker, dan staf-staf pendukung) perlu mendapatkan pelatihan berkelanjutan mengenai standar-standar medis terbaru. Namun yang tak kalah penting adalah pendekatan berbasis empati. Komunikasi terapeutik yang baik antara dokter dan pasien terbukti secara ilmiah mampu menurunkan tingkat kecemasan pasien dan mempercepat proses penyembuhan (healing process). Rumah sakit yang modern dan humanis harus mampu menjadi tempat yang ramah dan nyaman bagi pasien, di mana di sana pasien merasa didengar dan dihargai.
  • Konsep Green & Healing Hospital. Desain arsitektur rumah sakit modern pada masa kini telah bergeser menuju konsep yang disebut Green and Healing Environment. Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan fisik sangat mempengaruhi kondisi psikologis dan fisiologis pasien. Revitalisasi rumah sakit harus pula memperhatikan hal-hal seperti pencahayaan alami, sirkulasi udara yang bersih, tingkat kebisingan yang terkontrol, serta ruang hijau di sekitar area perawatan. Konsep rumah sakit ramah lingkungan (Green Hospital) juga mencakup pengelolaan limbah medis yang aman, efisiensi energi, dan manajemen air secara berkelanjutan. Rumah sakit yang sehat untuk bumi adalah rumah sakit yang juga sehat untuk manusia di dalamnya.
  • Penguatan Sistem Rujukan dan Integrasi Layanan. Rumah sakit sejatinya tidak bekerja secara terisolasi. Revitalisasi harus melibatkan penguatan jejaring rujukan, baik dari Puskesmas hingga ke Rumah Sakit Rujukan Nasional. Dengan sistem rujukan yang terintegrasi berbasis data digital, pasien yang membutuhkan penanganan darurat tidak perlu lagi berputar-putar mencari ruang ICU atau dokter spesialis yang seringkali tidak tersedia di tempat, karena data ketersediaan kamar dan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya sudah terhubung secara real-time.


Edukasi Kesehatan: Dari Kuratif Menuju Preventif

Salah satu peran paling strategis dari rumah sakit yang telah direvitalisasi adalah pergeseran fokus dari sekadar kuratif (pengobatan) menuju preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kualitas kesehatan).

Masyarakat perlu teredukasi bahwa rumah sakit juga merupakan tempat untuk belajar hidup sehat. Melalui penyelenggaraan fasilitas medik ramah rakyat kecil, seperti Medical Check-Up (MCU) yang terjangkau dan terintegrasi, penyakit-penyakit kronis hendaknya dapat dideteksi jauh lebih awal (early detection) sebelum menjadi memburuk dan tak tertangani.

Stroke dan penyakit jantung koroner, misalnya. Kedua penyakit ini sampai dengan saat ini masih merupakan faktor penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Padahal, lebih dari 80% kasus penyakit jantung dan stroke dini sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini tekanan darah, gula darah, serta perubahan gaya hidup yang lebih sehat.

Rumah sakit yang telah direvitalisasi nantinya diharapkan mampu secara aktif menyediakan pusat edukasi gizi, konseling kesehatan mental, hingga program rehabilitasi yang mudah dan murah diakses oleh publik. Ketika masyarakat sadar pentingnya pencegahan, beban biaya kesehatan nasional dapat ditekan secara signifikan, dan kualitas hidup warga pun ikut meningkat secara drastis.

 

Generasi Emas dan Benteng Kesehatan Bangsa

Menjelang cita-cita Indonesia Emas 2045, tantangan kita saat ini bukan lagi sekadar membebaskan diri dari penjajahan fisik, melainkan membebaskan bangsa ini dari ancaman-ancaman kesakitan yang preventable (dapat dicegah) dan menghapuskan ketimpangan layanan-layanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Revitalisasi rumah sakit adalah sebuah investasi jangka panjang. Gedung rumah sakit yang kokoh, bersih, dan dilengkapi teknologi medis yang modern hanyalah cangkang. Jiwa dari revitalisasi itu sendiri terletak pada komitmen kita bersama untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang adil, berkualitas, dan memanusiakan manusia.

Ketika setiap warga negara, baik yang tinggal di pusat kota maupun di pelosok pulau terluar, memiliki akses yang sama terhadap rumah sakit yang berkualitas, maka saat itulah kita benar-benar telah merdeka secara kesehatan.

Di usia kemerdekaan Indonesia yang ke-81 ini, mari kita dukung bersama transformasi kesehatan nasional yang saat ini sedang dan terus berjalan. Karena hanya di atas tanah yang dihuni oleh masyarakat yang sehatlah, berdiri sebuah bangsa yang kuat dan tak tergoyahkan.


#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI

Read More

Suling

Foto oleh Daniel Lee: https://www.pexels.com/id-id/foto/pemandangan-jalanan-hitam-putih-di-jawa-barat-32080827/


Ketika memilih hidup biasa-biasa saja bukan berarti kamu gagal.


Di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern yang terobsesi dengan produktivitas dan pencapaian, memilih hidup tanpa ambisi besar sering kali dianggap aneh, bahkan salah. Kita hidup di era yang mendewakan kerja keras, naik jabatan, mengejar target, dan segala bentuk ekspresi dari apa yang disebut sebagai ambisi.


Sekarang, pertanyaannya: apakah semua orang harus menjadi ambisius? Dan apakah menjadi tidak ambisius adalah sesuatu yang perlu dikoreksi atau dikritisi?


Narasi Besar Ambisi

Pernah dinasehati oleh orang tua atau kakek nenek seperti ini: "sekolah yang rajin, biar nanti bisa kerja di pabrik yang bagus dan gajinya banyak?" Sejak dini, kita diajarkan untuk menjadi “seseorang.” Sejak masih belia kita didorong untuk punya mimpi besar, bersaing, dan bakan kalau bisa menaklukkan dunia.

Memang, tidak ada yang salah dengan itu. Ambisi itu ibarat bahan bakar, bisa menjadi tenaga penggerak untuk banyak hal-hal baik.

Tetapi ketika ambisi itu menjadi sebuah norma sosial yang kesannya dipaksakan dan semua orang dituntut untuk menjadi lebih, hanya demi dipandang sukses oleh orang-orang sekitar, maka yang terjadi tidak lagi bisa disebut pengembangan diri—melainkan tekanan kolektif.

Budaya bekerja keras, atau hustle culture kalau kata anak-anak Gen-Z, misalnya, telah mengakar dalam kehidupan anak muda masa kini. Ungkapan seperti “kerja keras dulu, nikmati kemudian,” “tidur hanya untuk orang yang malas,” atau “jangan mau kalah saing dengan tetangga sebelah” menjadi semacam mantra harian yang memaksa anak-anak muda masa kini terobsesi untuk terus memacu diri tanpa jeda. Hadirnya media sosial dengan kebiasaan flexing-nya ikut memperparah keadaan ini. Mudahnya mengakses sosial media saat ini membuat kita jadi semakin sering melihat pameran-pameran kesuksesan orang lain dalam bentuk post dan highlight. Mulai dari promosi jabatan, lulus kuliah dengan nilai terbaik dan hadiah-hadiah mewah, vlog-vlog belanja dan makan-makan yang serba mahal, seolah tidak bisa lagi kita filter dan semua pengaruh-pengaruh hedon itu masuk langsung ke kepala kita lewat mata dan jemari tangan kita.

Tidak heran, jika saat ini banyak orang yang depresi. Merasa bersalah dan stress saat hidup mereka tidak seambisius dan sespektakuler postingan-postingan itu.


Tidak Ambisius Bukan Berarti Malas

Saya perlu meluruskan satu hal terlebih dahulu: tidak semua orang yang memilih hidup tanpa ambisi besar itu malas. Di dunia ini masih ada kok orang-orang yang tetap bekerja dengan baik, hidup dengan disiplin dan sederhana, membangun relasi sosial yang sehat—tanpa harus mendefinisikan hidup mereka lewat target-target besar yang tadi beberapanya saya sebutkan.

Mereka yang tidak ambisius, bisa jadi justru lebih sadar akan kebutuhan dan batasan dirinya. Mereka tidak mengejar status atau angka-angka, tapi memilih kehidupan yang lebih tenang, cukup, dan seimbang.

Ada banyak contohnya orang-orang tidak ambisius seperti itu di negara kita ini. Misalnya guru-guru sukarelawan yayasan-yayasan kemanusiaan (voulenteer) di desa atau tempat-tempat terpencil yang tetap setia mengajar walau gajinya kecil atau bahkan tidak digaji, petani-petani yang hidup dan makan dari tanahnya sendiri tanpa keinginan pindah ke kota, atau karyawan-karyawan biasa yang tidak tertarik naik jabatan karena lebih memilih waktu untuk keluarga.

Pertanyaan saya, apakah mereka semua itu tidak sukses? Atau hanya tidak sesuai dengan definisi sukses pada umumnya?


Pilihan Gaya Hidup Alternatif

Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan seperti slow living, quiet quitting, hingga enoughism mulai ramai dibicarakan, utamanya di sosial media. Gaya hidup ini bisa dibilang adalah antitesis dari gaya hidup serba instan hari-hari ini. Fenomena ini juga dapat dikatakan sebagai sebuah respons kekecewaan dan atau kemuakan orang-orang terhadap tekanan hidup yang dirasa terlalu menuntut seperti saat ini.

Gaya hidup alternatif itu menekankan bahwa hidup tidak harus selalu tentang menjadi yang terbaik atau menghasilkan yang terbanyak. Ada nilai dalam menjalani hidup secara perlahan, sadar, dan sesuai ritmenya.

Hidup tanpa ambisi bukannya tidak memiliki risiko. Di tengah masyarakat yang sangat kompetitif, seseorang bisa dipandang aneh atau kurang semangat jika tidak ingin naik level. Ketika semua orang di kantor berlomba-lomba ambil lemburan untuk hanya terlihat perform di mata bos dan bahkan ada yang sampai rela jadi “madu” hanya demi sebuah jabatan dan uang, tapi kalau kamu sering pulang ontime dan jarang lembur di weekend, maka bisa jadi kamu akan dianggap aneh dan pemalas. Tapi justru karena itulah penting untuk menyuarakan bahwa pilihan hidup seperti itu harusnya tetap valid dan tetap layak untuk dihargai.


Realitanya Tidak Semua Orang Mau atau Bisa Berlomba

Ada banyak faktor yang membuat seseorang memilih untuk hidup tanpa ambisi besar. Bisa jadi karena trauma masa lalu, burnout di pekerjaan yang sudah dijalani bertahun-tahun, atau karena memang merasa damai saja dengan kehidupan yang pelan dan sederhana. Ada juga orang-orang seperti itu yang memilih jalan ini karena keyakinan spiritual atau filosofi hidup mereka masing-masing.

Hal yang perlu ditekankan adalah: hidup yang tidak ambisius bukan berarti hidup tanpa tanggung jawab. Ini bukan tentang lelah, menyerah dan lalu kalah, tapi bisa juga tentang memilih bentuk keberhasilan yang berbeda.

Seseorang bisa saja tidak mengejar sorot lampu panggung, tapi tetap menjadi cahaya bagi orang-orang terdekatnya. Seseorang bisa tidak ingin menjadi pemimpin, tapi tetap memberi teladan dalam sikap dan perbuatannya sehari-hari.


Menyusun Ulang Definisi Sukses

Apa itu sukses?

Seharusnya jika kamu meresapi tulisan ini sejak dari awal, kamu akan tahu kalau pertanyaan itu sewajarnya tidak bisa dijawab dengan satu kalimat atau kata yang mutlak, karena jawabannya bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, sukses adalah ketika pendapatannya tinggi dan jabatannya besar. Tapi bagi yang lain, sukses bisa berarti pulang ke rumah tanpa beban, makan dengan tenang, dan tidur dengan nyenyak tanpa beban pikiran, atau sekedar punya waktu untuk menemani anak bermain di akhir pekan tanpa harus khawatir mendapatkan pesan dari kantor yang pasti bisa menganggu quality time-nya bersama keluarga.

Dengan menyusun ulang definisi sukses kita masing-masing, kita bisa membuka ruang untuk bisa merasa cukup—bukan karena kita tidak mampu mencapai lebih lagi, tapi karena kita tahu pasti kapan harus berhenti. Ini bukan tentang kemauan, tapi kemampuan, pahami batasanmu.


Berhenti Berlomba, Mulai Mendengar Diri Sendiri

Hidup tidak harus spektakuler untuk bisa bermakna. Kita tidak wajib tampil menonjol untuk hanya bisa dianggap berhasil. Tidak apa-apa jika kita tidak ambisius. Tidak apa-apa jika kita memilih jalur yang lebih sunyi.

Yang terpenting, kita hidup dengan sadar penuh, tidak menyakiti, dan tidak kehilangan diri sendiri.

Karena pada akhirnya, untuk menentukan apakah hidup kita berarti, bukan dari seberapa jauh kita berlari—melainkan seberapa damai kita saat berhenti.



Piece of Peace
Gitakara Ardhytama
Read More

Pria yang sedang bersedih

Compassion Fatigue (terms) : Istilah psikologis untuk seseorang yang merasa kelelahan secara fisik dan mental kerena terlalu memperhatikan sesuatu/seseorang secara berlebihan dalam jangka waktu yang lama dan sangat intens.


Hai, bagaimana jantungmu hari ini? Masihkah detaknya teratur seperti selayaknya? Mestinya tidak, aku yakin tidak. Atur nafasmu, tenang. Sesaat lagi, mulai hari ini, tak ada lagi kata sendirian. Kamu akan selalu punya teman untuk mencurahkan segalanya yang ingin kau ceritakan. Tak perlu lagi ada cerita-cerita yang kau pendam, karena telinganya akan selalu siap untuk mendengarkan.


Oya, jangan lupa siapkan jari manismu untuk menerima cincin pernikahan kalian. Jangan juga lupa, tiap baris kata tentang janji pernikahan yang akan kau ucapkan. Semoga tak ada kekeliruan, misalnya kau salah menyebut namanya dengan namaku di depan altar pernikahan.


Siapa aku ini, beraninya berkhayal kau akan salah menyebut namanya dengan namaku? Maaf, mungkin aku lupa meminum obat anti halusinasiku.


*****


Satu malam sebelum hari pernikahanmu, aku lupa apakah aku sudah tidur pada malam itu. Aku terus saja memandangi email lamamu, undangan untukku datang ke acara yang tak ku harapkan. Jemariku mengepal keras sembari sesekali memukulkannya ke kepalaku, mencoba mematikan pikiran-pikiran jahat yang tak hentinya lewat sekelebat.


“Seharusnya ini adalah undangan kita berdua”, gumam bibirku yang tak kusadar telah saling menggigit menahan tangis sebab mimpi yang kau hancurkan dengan sporadis.


Lampu kamar ku redupkan. Bekerja keras sepasang mata ini memejam, dengan asa semoga hari esok segera tiba. Nampaknya aku salah, takkan semudah itu hati ini tertidur tenang dan pasrah. Sepasang otak ini tak mau berhenti memikirkan apa yang akan terjadi setelah lewat malam ini. Baik, aku menyerah. Ku bisikkan pada diriku sendiri, “baiklah, demi perpisahan yang berkesan, besok kita akan datang dan menyaksikan mereka mengucap janji pernikahan” dan anehnya, akhirnya suara-suara dalam kepala pun seketika diam.


*****



Entah esok bagaimana,

Yang aku tahu

aku takkan pernah siap merelakanmu

merelakan masa depan dalam lain dekapan.



Paginya aku bangun dengan langkah dan nafas yang sama beratnya. Apalagi jika harus menarik paksa senyum dari wajah yang berlumuran duka. Apa daya, aku telah berjanji pada setiap inci organ dalam tubuh ini. Kali ini aku akan bertahan sebisanya, mengakhiri segalanya dan menghentikan luka yang sudah lima tahun ku biarkan terbuka.


Melihatmu dari ujung tempatku mengagumimu, kau masih tetap cantik walau telah lama mata kita tak saling kita jumpa. Tubuhmu yang tinggi dan putih, sangat cocok terbalut kain satin putih cerah senada dengan kulitmu, yang semakin menegaskan statusmu sebagai seorang pengantin. Dari sejarak ini aku menatapimu, aku masih saja bisa mengagumi rupa di balik veil pengantinmu itu. Di sampingmu tentu saja bisa ku lihat dengan jelas, lelaki yang telah merebut hatimu dariku dengan culas. Ah, tetapi tetap saja, akhirnya dia yang mendapatkanmu seutuhnya.


Selamat menempuh hidup baru, wahai cerita lamaku. Selamat menambatkan mimpi padanya yang jauh lebih kau percaya.



Pria yang beruntung,

Sedang aku, lelaki yang harapnya berkabung.


- Gitakara Ardhytama

Read More

 

Foto oleh Jess Bailey Designs dari Pexels

Mari kita buka percakapan kali ini dengan beberapa pertanyaan. Di akun Youtube-mu ada berapa channel motivasi yang kamu subscribe? Di akun sosial mediamu berapa akun motivasi yang kamu follow? Berapa banyak buku motivasi yang kamu baca selama satu tahun ke belakang? Berapa banyak orang di sekitarmu yang berkata, "kamu pasti bisa", "kamu harus selalu semangat", "kamu kuat", dan kata-kata bernada positif lainnya yang mereka ucapkan kepadamu?

Menurut kamu, apakah itu wajar? Apakah wajar meminta kita untuk selalu hidup dengan pikiran positif, sepanjang waktu? Padahal hidup itu sendiri tidak selalu positif. Kita semua pasti pernah merasa sakit hati, kecewa, stres, pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan dan beragam emosi negatif lainnya. Lalu sejak kapan kita tidak boleh merasa kecewa, sakit hati, stres? Kenapa tidak boleh?

Kita hidup di dunia yang “beracun”. Bukan karena virus, polusi, global warming, limbah atau menipisnya ozon di langit. Bukan! Kita teracuni oleh ajakan untuk selalu berpikir positif sepanjang waktu, atau yang sering disebut orang sebagai toxic positivity. Toxic positivity adalah kondisi ketika seseorang menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif dengan menolak emosi negatif. Dengan selalu berpikir positif, mereka menganggap masalah-masalah mereka akan dapat dilewati dengan baik. Mereka menganggap bahwa berpikir positif adalah metode yang tepat untuk mengatasi semua masalah mereka. Apalagi di masa pandemi seperti saat ini, semakin banyak bertebaran di timeline-timeline sosial media kita guru-guru dadakan, motivator-motivator basi yang menghiasai beranda kita dengan kata-kata motivasi supernya.

Menurut saya, toxic positivity sangat menggangu kesehatan mental kita. Kenapa? Karena menurut saya, sesekali kita membutuhkan pikiran negatif dalam hidup kita. Mengapa kita butuh pikiran negatif dalam hidup? Jawaban singkatnya adalah karena mustahil untuk dilakukan. Akuilah, gagasan berpikir positif sepanjang waktu adalah gagasan yang mustahil, tidak realistis dan mengada-ada. Kita tidak mungkin bisa berpikir positif sepanjang waktu. Suasana hati dan pikiran kita ibarat sebuah cuaca, kadang ia mendung, kadang ia cerah, kadang ia badai, kadang ia dingin. Begitu pula suasana hati kita. Kadang marah, senang, dan sedih. Sungguh tidak natural jika kita berpikir kita bisa mengendalikan cuaca, begitu pula mengendalikan “cuaca” di dalam pikiran kita untuk selalu cerah dan terang. Tidak akan pernah ada orang yang bisa berpikir positif sepanjang waktu, seumur hidupnya.

Ketika seseorang memaksa dirinya untuk selalu berpikir positif, yang sebenarnya terjadi adalah ia menampik sekuat tenaga pikiran-pikiran negatif yang seharusnya ia bisa pahami, atasi dan selesaikan. Tetapi karena batinnya menekan pikiran negatif tersebut, maka pikiran negatif itu bukannya hilang tapi malah tenggelam ke dalam alam bawah sadarnya, tertumpuk oleh pikiran positif yang sebenarnya adalah semu. Anggaplah pikiran negatif itu adalah sebuah garam, pikiran positif adalah sebuah gula, dan hati kita adalah sebuah gelas yang berisi air. Dalam kondisi netral, segelas air tidak memiliki rasa apapun, hambar. Kemudian masuklah garam. Jika kita ingin menetralkan kembali air itu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Jika kita memasukkan gula ke dalam air tersebut, bukan rasa netral yang kita dapatkan. Melainkan rasa manis dan asin, tergantung seberapa banyak gula dan garam yang terkandung di dalam air tersebut. Menambahkan gula ke dalam gelas hanya akan membuat air itu mengandung gula dan garam. Mereka akan tetap ada di sana, di satu wadah yang sama. Cara yang benar jika ingin kembali menetralkan rasa air tersebut adalah dengan memisahkan garam dari air tersebut dengan proses destilasi.

Selain itu menghindari diri dari berpikir negatif juga mencegah kita untuk menjadi waspada dan hati-hati. Mari analogikan dengan penciptaan helm. Helm tercipta karena pikiran negatif akan adanya bahaya jika kita terjatuh dari sepeda motor dan tidak ada yang melindungi kepala kita dari benturan. Jika kita selalu berpikir positif, maka mungkin kita akan bilang, “ah nggak akan kenapa-kenapa kok. Pasti aman, pasti nggak akan tabrakan. Kan masih ada Tuhan yang melindungi”. Justru pemikiran seperti inilah yang mengawali sebuah kejadian kecelakaan biasanya.

Maka, selain mengajak untuk stop selalu berpikir positif sepanjang waktu, saya juga mengajak kalian untuk sudahilah usaha untuk mengendalikan pikiran kita. Karena pada dasarnya pikiran kita tidaklah bisa dikendalikan, yang bisa kita kendalikan hanyalah tindakan-tindakan kita saat pikiran negatif hadir dalam pikiran kita. Kembali lagi, sama seperti cuaca, kadang ia mendung, kadang ia panas, kadang ia hujan, kadang ia badai. Tetapi semua itu tidaklah abadi. Cuaca pasti berganti. Begitu juga perasaanmu. Sesekali pikiran negatif pasti akan datang. Alih-alih menimpanya dan menekannya dengan pikiran positifmu yang semu, lebih baik untuk bersabar sajalah. Nanti jika sudah waktunya pikiran negatif itu juga akan pergi. Sama seperti hujan datang, kita tidak berusaha untuk menghentikan hujannya, tetapi kita memakai payung atau jas hujan agar tidak basah terkena dampak dari hujan tersebut kan? Maka bersabarlah, tidak akan ada yang abadi. Kecuali waktu.

Piece of Peace,
Gitakara Ardhytama
Read More
Super Food

“Mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur?”

Pertanyaan seperti itu bagi kita-kita yang sudah ‘cukup umur’ mungkin akan terdengar familiar ya di telinga kita. Entah siapa yang memulai mempertanyakan hal-hal semacam ini. Tetapi dari pola pertanyaan yang sama, saya memiliki 1 pertanyaan yang hampir-hampir mirip, tapi mungkin akan lebih mudah untuk menjawabnya.

“Mana yang lebih dulu ada, tempe atau tahu?”

Nah, itu adalah pertanyaan yang beberapa hari ini tiba-tiba nyangkut di kepala saya. Tetapi jika Anda berpikir jawabannya akan mudah ditemukan di google, yah, mungkin saya akan katakan “mungkin iya, mungkin juga tidak.” Kenapa begitu? Karena ada buaannyyaaaaakkk sekali literatur yang berhubungan dengan sejarah duo makanan rakyat ini. Bahkan tergantung dari literatur mana yang Anda baca dan konteks pertanyaannya itu sendiri. Apakah yang dimaksud ‘ada’ pada pertanyaan tersebut itu merujuk kepada kapan mereka masuk ke Indonesia, atau kapan mereka diciptakan, atau secara alur proses menciptakan kedua olahan kedelai tersebut. Bahkan negara penemu kedelai pertama sendiri sampai dengan saat ini masih diperdebatkan, apakah benar Cina penemunya atau ada negara lain yang tanpa sengaja telah menanam tanaman ini sejak ratusan tahun yang lalu. Beberapa literatur pun ada yang mengarah ke Indonesia sebagai penemu pertama kedelai, terutama kedelai hitam. Oleh karena itu, maka kita akan batasi pembahasan sejarah kali ini dengan menganggap bahwa pertanyaan tersebut merujuk pada waktu ditemukannya pertama kali kedua olahan kedelai ini.

TAHU.
Jika dilihat dari waktu ditemukannya tahu dan tempe, tahu jelas menjadi yang pertama hadir di dunia dibandingkan tempe. Tahu telah dikenal oleh masyarakat Tiongkok sejak 3.000 tahun silam, pada masa dinasti Han. Penemunya adalah Liu An, cucu kaisar Liu Bang. Karena itulah kata tahu sendiri berasal dari bahasa Tionghoa, yakni tao-hu atau teu-hu, yang artinya kacang kedelai (tao/teu) dan hancur menjadi bubur (hu). Maka secara harafiah dapat dikatakan tahu artinya adalah kacang kedelai yang dihancurkan menjadi seperti bubur.

Pada waktu awal ditemukannya tahu, hanya ada satu jenis tahu yang dikenal di Tiongkok, yaitu tahu sutra. Tidak seperti saat ini, dahulu orang-orang Tiongkok langsung memakan mentah tahu-tahu sutra karena tahu sutra saat itu lebih lembek dan cepat membusuk. Karena itu mereka langsung memakan tahu sutra mentah-mentah. Sejak masuk ke Indonesia, tahu kemudian mengalami indigenisasi, sehingga muncullah varian-varian tahu lain seperti yang kita kenal saat ini pada ragam kuliner-kuliner Indonesia. Tidak ada yang tahu pasti kapan masuknya tahu ke Indonesia, tetapi kota Kediri dianggap oleh beberapa ahli sebagai jalur masuknya tahu ke Indonesia. Diperkirakan pada sekitar tahun 1292, Nusantara mulai mengenal tahu yang dibawa oleh tentara Kubilai Khan.

TEMPE.
Tempe diperkirakan oleh para ahli sudah ada sejak abad ke-12, bukti ini diperkuat dengan peninggalan-peninggalan sejarah yang berupa manuskrip kuno dan prasasti-prasasti yang ditemukan di sekitaran pulau Jawa memuat kata 'tempe' di dalamnya. Ya, tempe adalah asli buatan Indonesia, spesifik buatan orang Jawa pada masa lampau. Beberapa peninggalan sejarah mengindetifikasikan asal kata tempe itu sendiri berasal dari kosakata bahasa Jawa kuno, yaitu tumpi, yang artinya adalah “makanan yamg berwarna putih.” Tempe mentah sendiri memang berwarna putih, yang mana warna putih ini adalah warna jamur yang menyelimuti kacang kedelai yang disebut jamur tempe atau kapang.

Meskipun awalnya tempe dibuat dengan bahan dasar kedelai, tetapi seiring majunya teknologi mulai dikembangkan tempe non kedelai. Tidak diketahui pasti apa alasan di balik pembuatan tempe non kedelai ini. Tetapi kuat diduga tempe ini adalah eksperimen untuk mengakali ketergantungan produksi tempe pada kacang kedelai yang mulai langka saat ini. Awalnya tempe juga dikenal dengan ciri khas bungkus daun pisangnya. Tetapi sejak awal 1970-an pembungkus tempe saat itu telah banyak digantikan dengan plastik-plastik polietilena. Pada tahun sekitar 1983-an daun waru juga mulai digunakan sebagai inokulan pada tempe-tempe komersial. Hal-hal inilah yang dianggap oleh masyarakat menurunkan kualitas tempe pada masa kini.

KESIMPULAN.
Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ada, maka jelas, tahu adalah olahan kacang kedelai yang paling tua usianya dibandingkan tempe. Tetapi yang menjadi kebanggaan adalah tempe menjadi sebuah warisan Indonesia untuk dunia. Bisa dikatakan Indonesia adalah penemu tempe dan dunia lewat UNESCO pun sudah mengakui tempe adalah kuliner asli Indonesia. Bahkan tahu dan tempe menjadi incaran para vegetarian di seluruh dunia karena telah terbukti mampu menggantikan energi yang sama dengan yang berasal dari protein hewani. Maka, dari fakta-fakta sejarah tersebut, sudah selayaknya kita rakyat Indonesia dengan bangga memiliki dan mengkonsumsi super food yang mendunia ini. Saya ingin menutup tulisan ini dengan kutipan dari pidato bung Karno di Marauke pada tahun 1963, Bung Karno pernah berkata demikian:

"Ada tempe, ada tahu. Ya, memang itu makanan kita saudara-saudara. Bukan keju, bukan mentega saudara-saudara. Tahu tempe."



Penikmat tempe mendoan setengah matang,
Gitakara Ardhytama.
Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda