Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan

Suling

Foto oleh Daniel Lee: https://www.pexels.com/id-id/foto/pemandangan-jalanan-hitam-putih-di-jawa-barat-32080827/


Ketika memilih hidup biasa-biasa saja bukan berarti kamu gagal.


Di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern yang terobsesi dengan produktivitas dan pencapaian, memilih hidup tanpa ambisi besar sering kali dianggap aneh, bahkan salah. Kita hidup di era yang mendewakan kerja keras, naik jabatan, mengejar target, dan segala bentuk ekspresi dari apa yang disebut sebagai ambisi.


Sekarang, pertanyaannya: apakah semua orang harus menjadi ambisius? Dan apakah menjadi tidak ambisius adalah sesuatu yang perlu dikoreksi atau dikritisi?


Narasi Besar Ambisi

Pernah dinasehati oleh orang tua atau kakek nenek seperti ini: "sekolah yang rajin, biar nanti bisa kerja di pabrik yang bagus dan gajinya banyak?" Sejak dini, kita diajarkan untuk menjadi “seseorang.” Sejak masih belia kita didorong untuk punya mimpi besar, bersaing, dan bakan kalau bisa menaklukkan dunia.

Memang, tidak ada yang salah dengan itu. Ambisi itu ibarat bahan bakar, bisa menjadi tenaga penggerak untuk banyak hal-hal baik.

Tetapi ketika ambisi itu menjadi sebuah norma sosial yang kesannya dipaksakan dan semua orang dituntut untuk menjadi lebih, hanya demi dipandang sukses oleh orang-orang sekitar, maka yang terjadi tidak lagi bisa disebut pengembangan diri—melainkan tekanan kolektif.

Budaya bekerja keras, atau hustle culture kalau kata anak-anak Gen-Z, misalnya, telah mengakar dalam kehidupan anak muda masa kini. Ungkapan seperti “kerja keras dulu, nikmati kemudian,” “tidur hanya untuk orang yang malas,” atau “jangan mau kalah saing dengan tetangga sebelah” menjadi semacam mantra harian yang memaksa anak-anak muda masa kini terobsesi untuk terus memacu diri tanpa jeda. Hadirnya media sosial dengan kebiasaan flexing-nya ikut memperparah keadaan ini. Mudahnya mengakses sosial media saat ini membuat kita jadi semakin sering melihat pameran-pameran kesuksesan orang lain dalam bentuk post dan highlight. Mulai dari promosi jabatan, lulus kuliah dengan nilai terbaik dan hadiah-hadiah mewah, vlog-vlog belanja dan makan-makan yang serba mahal, seolah tidak bisa lagi kita filter dan semua pengaruh-pengaruh hedon itu masuk langsung ke kepala kita lewat mata dan jemari tangan kita.

Tidak heran, jika saat ini banyak orang yang depresi. Merasa bersalah dan stress saat hidup mereka tidak seambisius dan sespektakuler postingan-postingan itu.


Tidak Ambisius Bukan Berarti Malas

Saya perlu meluruskan satu hal terlebih dahulu: tidak semua orang yang memilih hidup tanpa ambisi besar itu malas. Di dunia ini masih ada kok orang-orang yang tetap bekerja dengan baik, hidup dengan disiplin dan sederhana, membangun relasi sosial yang sehat—tanpa harus mendefinisikan hidup mereka lewat target-target besar yang tadi beberapanya saya sebutkan.

Mereka yang tidak ambisius, bisa jadi justru lebih sadar akan kebutuhan dan batasan dirinya. Mereka tidak mengejar status atau angka-angka, tapi memilih kehidupan yang lebih tenang, cukup, dan seimbang.

Ada banyak contohnya orang-orang tidak ambisius seperti itu di negara kita ini. Misalnya guru-guru sukarelawan yayasan-yayasan kemanusiaan (voulenteer) di desa atau tempat-tempat terpencil yang tetap setia mengajar walau gajinya kecil atau bahkan tidak digaji, petani-petani yang hidup dan makan dari tanahnya sendiri tanpa keinginan pindah ke kota, atau karyawan-karyawan biasa yang tidak tertarik naik jabatan karena lebih memilih waktu untuk keluarga.

Pertanyaan saya, apakah mereka semua itu tidak sukses? Atau hanya tidak sesuai dengan definisi sukses pada umumnya?


Pilihan Gaya Hidup Alternatif

Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan seperti slow living, quiet quitting, hingga enoughism mulai ramai dibicarakan, utamanya di sosial media. Gaya hidup ini bisa dibilang adalah antitesis dari gaya hidup serba instan hari-hari ini. Fenomena ini juga dapat dikatakan sebagai sebuah respons kekecewaan dan atau kemuakan orang-orang terhadap tekanan hidup yang dirasa terlalu menuntut seperti saat ini.

Gaya hidup alternatif itu menekankan bahwa hidup tidak harus selalu tentang menjadi yang terbaik atau menghasilkan yang terbanyak. Ada nilai dalam menjalani hidup secara perlahan, sadar, dan sesuai ritmenya.

Hidup tanpa ambisi bukannya tidak memiliki risiko. Di tengah masyarakat yang sangat kompetitif, seseorang bisa dipandang aneh atau kurang semangat jika tidak ingin naik level. Ketika semua orang di kantor berlomba-lomba ambil lemburan untuk hanya terlihat perform di mata bos dan bahkan ada yang sampai rela jadi “madu” hanya demi sebuah jabatan dan uang, tapi kalau kamu sering pulang ontime dan jarang lembur di weekend, maka bisa jadi kamu akan dianggap aneh dan pemalas. Tapi justru karena itulah penting untuk menyuarakan bahwa pilihan hidup seperti itu harusnya tetap valid dan tetap layak untuk dihargai.


Realitanya Tidak Semua Orang Mau atau Bisa Berlomba

Ada banyak faktor yang membuat seseorang memilih untuk hidup tanpa ambisi besar. Bisa jadi karena trauma masa lalu, burnout di pekerjaan yang sudah dijalani bertahun-tahun, atau karena memang merasa damai saja dengan kehidupan yang pelan dan sederhana. Ada juga orang-orang seperti itu yang memilih jalan ini karena keyakinan spiritual atau filosofi hidup mereka masing-masing.

Hal yang perlu ditekankan adalah: hidup yang tidak ambisius bukan berarti hidup tanpa tanggung jawab. Ini bukan tentang lelah, menyerah dan lalu kalah, tapi bisa juga tentang memilih bentuk keberhasilan yang berbeda.

Seseorang bisa saja tidak mengejar sorot lampu panggung, tapi tetap menjadi cahaya bagi orang-orang terdekatnya. Seseorang bisa tidak ingin menjadi pemimpin, tapi tetap memberi teladan dalam sikap dan perbuatannya sehari-hari.


Menyusun Ulang Definisi Sukses

Apa itu sukses?

Seharusnya jika kamu meresapi tulisan ini sejak dari awal, kamu akan tahu kalau pertanyaan itu sewajarnya tidak bisa dijawab dengan satu kalimat atau kata yang mutlak, karena jawabannya bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, sukses adalah ketika pendapatannya tinggi dan jabatannya besar. Tapi bagi yang lain, sukses bisa berarti pulang ke rumah tanpa beban, makan dengan tenang, dan tidur dengan nyenyak tanpa beban pikiran, atau sekedar punya waktu untuk menemani anak bermain di akhir pekan tanpa harus khawatir mendapatkan pesan dari kantor yang pasti bisa menganggu quality time-nya bersama keluarga.

Dengan menyusun ulang definisi sukses kita masing-masing, kita bisa membuka ruang untuk bisa merasa cukup—bukan karena kita tidak mampu mencapai lebih lagi, tapi karena kita tahu pasti kapan harus berhenti. Ini bukan tentang kemauan, tapi kemampuan, pahami batasanmu.


Berhenti Berlomba, Mulai Mendengar Diri Sendiri

Hidup tidak harus spektakuler untuk bisa bermakna. Kita tidak wajib tampil menonjol untuk hanya bisa dianggap berhasil. Tidak apa-apa jika kita tidak ambisius. Tidak apa-apa jika kita memilih jalur yang lebih sunyi.

Yang terpenting, kita hidup dengan sadar penuh, tidak menyakiti, dan tidak kehilangan diri sendiri.

Karena pada akhirnya, untuk menentukan apakah hidup kita berarti, bukan dari seberapa jauh kita berlari—melainkan seberapa damai kita saat berhenti.



Piece of Peace
Gitakara Ardhytama
Read More

    Sebagai seorang “budak korporat”, bangun tidur dan pergi ke kantor setiap pagi adalah rutinitas yang cukup membosankan bagi saya. Tetapi daripada membuang-buang waktu dengan ngedumel, biasanya saya mengalihkannya dengan memikirkan hal-hal yang bisa membuat saya enjoy hingga perjalanan sampai ke kantor terasa singkat bagi saya.

    Ada hal yang unik yang saya temukan di pagi itu dan membuat saya tidak bisa berhenti memikirkannya sepanjang perjalanan menuju kantor. Pagi itu saya melewati jalan yang sudah biasa saya lewati untuk menuju ke kantor. Di sana ada seorang anak kecil yang sedang belajar naik sepeda roda dua dan ketika melewati polisi tidur yang ada di depannya, dia terjatuh. Dia langsung berusaha secepat mungkin berdiri lagi tanpa menunjukkan tanda-tanda kesakitan sekalipun lututnya terbentur jalanan aspal yang keras. Tanpa basa basi dan tanpa menangis tersedu-sedu ia segera berdiri dan membenarkan posisi sepeda kecilnya. “Wow!” saya tidak sadar mengeluarkan kata itu dan lalu meminggirkan sepeda motor, berpura-pura menunggu orang lewat, hanya agar bisa terus memperhatikan si anak kecil itu.

    Ia mendorong sepedanya melewati polisi tidur itu, lalu berbalik arah untuk kembali menantang polisi tidur yang tadi ‘mengalahkannya.’ Anak kecil itu kemudian mengayuh sepedanya dengan mantap. Kali ini dia berhasil melewatinya, walaupun sepedanya jadi sedikit kurang stabil dan hampir terjatuh lagi, ia masih bisa menahannya dengan kakinya sendiri. Tak lama kemudian seorang perempuan menghampirinya. Dia adalah kakak si anak kecil itu. Si anak kecil kemudian meminta kakaknya itu untuk mengajarkannya cara terbaik untuk mengayuh sepeda melewati polisi tidur.

    Karena saya merasa si anak sudah aman di tangan kakaknya, saya melanjutkan kembali perjalanan ke kantor sembari memikirkan kejadian yang baru saya saksikan tadi. Kata-kata pertama yang terlintas di pikiran saya adalah, “Anak kecil tadi lebih hebat dari kebanyakan orang-orang dewasa di luar sana.” Kebanyakan orang dewasa selalu berusaha menghindari rintangan yang ada di hadapannya dengan mencari jalan alternatif lainnya. Sama seperti yang saya lakukan jika saya harus melewati sebuah jalan yang memiliki beberapa tanjakan dan polisi tidur di sepanjang jalannya. Rasanya kurang menyenangkan. Apalagi jika ditambah dengan perasaan negatif seperti perut yang terasa seperti diacak-acak dan tangan yang pegal karena harus mengontrol gas dan rem bergantian di sepanjang jalan. Setiap kali akan melewati jalanan itu saya selalu berpikir, “Bagaimana caranya saya bisa melewati jalanan ini dan sampai di tujuan saya tanpa perlu mengalami perasaan-perasaan yang tidak enak itu?” Otak saya segera menjawab, ”Silahkan menunggu keajaiban!”. Tapi keajaiban seperti itu tentu saja tidak akan pernah datang.

    Singkirkan sejenak harapan dan mimpi Anda yang terlalu mustahil untuk menjadi nyata itu. Cara terbaik dan tercepat untuk menghadapi sebuah masalah adalah maju dan lalui rintangan yang ada di depan, tidak ada cara lain yang lebih baik dan lebih cepat. Sama seperti si anak kecil dengan sepedanya tadi yang berani menantang kembali rintangan yang sebelumnya berhasil menjatuhkan dirinya. Kebanyakan orang-orang tua tidak mau mengakui, bahwa kegagalan yang ada atau yang telah terjadi, faktor penyebabnya adalah dari dalam diri mereka sendiri. Mereka mencari kambing hitam untuk disalahkan. Misalnya jika mereka terjatuh seperti anak kecil tadi, maka mereka akan mengeluh dan menyalahkan keadaan, “Kenapa sih polisi tidur ini harus ada di sini?”, “Kenapa dia harus ada di jalan ini sehingga dia tertabrak oleh saya?” Orang-orang yang seperti itu akan sulit melihat ke dalam dirinya sendiri. Pandangan mereka cenderung melihat ke arah luar dirinya dan menyalahkan segala sesuatu, atau singkatnya kita bisa katakan mereka itu orang yang tidak mau disalahkan, selalu merasa benar sendiri.

    Sikap mental seperti itu, menurut saya, sangat amat berpengaruh dengan pola pikir mereka dalam hal mencapai kesuksesan hidupnya. Saya menyadari ada tipe-tipe orang yang selalu hidup dan bermain dalam imajinasinya sendiri. Mereka senang membayangkan apa yang akan dilakukan apabila sudah memiliki banyak uang dan mencapai kesuksesan, bahkan berimajinasi jauh hingga ke jenjang pernikahan misalnya. Mereka dapat membayangkan ingin memiliki berapa anak dan hidup di rumah yang mewah dan sebagainya. Mereka dapat membayangkan mereka hidup bersama dengan seseorang yang bahkan mereka tidak kenal, misalnya wanita cantik  atau pria tampan yang baru saja lewat di depan mereka.

    Sadarlah kawan, hal tersebut tidak akan pernah terjadi! Pemikiran itu akan membuat Anda terus berkubang dalam lautan mimpi Anda sendiri. Syukur-syukur kalau Anda mau berusaha dan bekerja keras untuk mewujudkan mimpi Anda itu. Biasanya tipe orang yang seperti ini maunya hanya bermimpi, bermimpi, dan bermimpi. Mereka hanya mau “tidur-tiduran” saja. Adakah orang yang bisa bermimpi saat sedang fokus bekerja? TIDAK ADA. Orang-orang seperti itu akan mulai menyalahkan orang lain yang mereka rasa hidupnya lebih sukses daripada mereka. Kemudian tak lupa berkeluh kesah, “Ah, kenapa sih Tuhan harus menciptakan saya sebagai orang miskin begini,” atau “Jelas lah mereka lebih sukses daripada saya, dia memang dilahirkan dengan bakat sukses.” Mereka tidak akan pernah mau mengakui bahwa yang jadi masalah sebenarnya adalah di dalam diri mereka sendiri. Hal ini yang membuat saya tadi berpikir anak kecil itu jauh lebih pintar, lebih kuat, lebih gigih daripada orang-orang yang mengaku dirinya dewasa.

    Mari saya jelaskan lagi dengan sebuah analogi. Ada dua orang yang sudah sangat tua bernama Abi dan Bani. Mereka berdua memiliki cucu-cucu yang sangat nakal. Suatu hari cucu-cucu mereka bermain bersama dan kemudian memiliki ide jahil untuk mengoleskan benda yang baunya sangat tidak sedap di atas bibir kakek mereka masing-masing.

    Kakek si Abi kemudian bangun dari tidur siangnya dan mencium bau yang dioleskan cucunya tadi. Ia keluar dari kamar tidunya sambil berteriak-teriak kamarnya berbau tidak sedap. Ia kemudian berjalan ke ruang tamu, ke ruang makan dan bahkan sampai ke jalan raya pun dia masih mencium bau itu dan kemudian dia berkata, “Seluruh dunia bau!”

    Berbeda dengan kakek si Bani. Setelah berkeliling rumah ia tetap mencium bau yang sama, dia kemudian pergi ke luar rumah. Ketika sampai di jalan raya dan masih mencium bau tidak sedap itu ia kemudian sadar bahwa bau itu berasal dari dirinya sendiri.

    Sama halnya dalam mencapai kesuksesan. Setelah mengalami kegagalan, beberapa orang mulai menganggap ada yang salah dengan orang lain atau keadaan di sekitarnya. Padahal seharusnya ia segera bangun dan menyadari bahwa ada ‘polisi tidur’ dan ‘bau-bauan’ pada dirinya yang perlu diatasi segera. Bukannya mengeluh dan menyalahkan seisi dunia.

    Jadi bagaimana dengan Anda? Apakah Anda seperti anak kecil yang bersepeda itu, yang berani menghadapi tantangan dan meminta pertolongan dari orang lain yang lebih berpengalaman? Atau Anda lebih suka mengeluh saja dan membenci orang-orang yang sudah lebih berhasil dibandingkan Anda?


Mantan Polisi Tidur,
Gitakara Ardhytama
Read More

Waktu

    Beberapa hari yang lalu, trending topic Twitter Indonesia sedang hangat membahas tentang sebuah topik: "50 juta". Topik tersebut menjadi trending setelah sebuah tweets dari seorang user Twitter ramai dikomentari oleh warga twitter lainnya. Isi tweets-nya sendiri intinya adalah kita diminta untuk memilih, apakah kita ingin digaji 3 juta tetapi selalu ada di rumah, atau gaji 50 juta tetapi tidak pernah pulang ke rumah.

    Tweet semacam itu tentu saja menimbulkan pro kontra di antara warga twitter, ada yang memilih uang yang banyak lebih penting, ada pula yang menyatakan waktu lebih berharga daripada harta. Pada kubu yang memilih waktu adalah lebih penting daripada uang, mereka berpendapat bahwa kita adalah manusia yang tidak bisa menghasilkan waktu. Waktu kita akan terus berjalan ke depan, tidak akan pernah mundur kembali ke belakang. Waktu yang kita miliki terbatas, maka manfaatkanlah secara tidak terbatas. Sedangkan uang bagi mereka hanyalah sebuah alat untuk mendapatkan kesenangan, bukan jaminan kepuasan. Kita bisa bersenang-senang dengan uang, tapi belum tentu puas dengan apapun yang bisa dibeli dengan uang. Sedangkan bagi kubu yang memilih uang adalah lebih penting daripada waktu berpendapat jika uang dapat menolong mereka “membeli” waktu yang hilang di masa pensiun nanti. Maksudnya adalah mereka sedang membicarakan tentang uang pensiun yang menurut mereka dapat menolong mereka menebus waktu yang telah hilang dengan bersantai di masa pensiun mereka. Dengan bekerja lebih ekstra keras di masa produktif, mereka bisa mendapatkan uang lebih banyak dan menginvestasikannya untuk kemudian segera pensiun di waktu yang sudah mereka targetkan. Beberapa acuan hidup anggota kubu ini adalah para pesohor yang meskipun masih muda telah memiliki beberapa aset sebagai uang pensiun mereka.

    Pada akhirnya, jika kita mau jujur dan menelaah baik-baik argumen dari kedua kubu, kita harus akui, mereka benar menurut pemikiran mereka masing-masing. Tetapi hidup berjalan adil. Keadilan yang dimaksud di sini adalah lebih ke arah proporsional, bukan sama rata. Karena sejatinya memang tidak akan pernah ada yang bisa mendapatkan segalanya yang kita mau (kecuali Anda sultan atau crazy rich salah satu daerah tertentu). Kita pasti ingin uang yang banyak dan waktu yang tak terbatas. Tetapi sayangnya tidak bergitu kenyataan berjalan. Kita tetap harus memilih, ingin banyak uang atau banyak waktu. Karena uang dan waktu adalah dua hal yang tidak dapat kita genggam bersamaan. Semakin kita erat memegang salah satunya, semakin kita melemahkan genggaman pada sisi lainnya. Jadi, apapun pilihan yang Anda ambil, ingatlah kata-kata ini:

"SETIAP PILIHAN MEMBUTUHKAN PENGORBANAN"

- Gitakara Ardhytama

Read More

WFH


“Sekolah yang rajin, yang pinter, biar nanti bisa kerja di perusahan yang bagus.”

    Pernahkah Anda dinasehati oleh orangtua Anda, atau setidaknya mendengar kalimat seperti itu? Kalau iya, selamat, berarti kita berada di circle yang sama. Kita dibesarkan oleh orangtua-orangtua yang masih memegang teguh pemikiran-pemikiran lawas. Sekarang pertanyaannya adalah, jadi apa Anda sekarang? Jika memang sekarang Anda merasa sudah menjadi seperti apa yang diingiinkan orangtua dan Anda juga bahagia, selamat, Anda beruntung bisa berbahagia dengan cara seperti itu. Sayangnya, saya tidak.

    Saya adalah anak generasi 90-an, yang dibesarkan dengan pemahaman orangtua yang seperti itu dan bahkan parahnya, sampai detik ini mereka masih memegang teguh pemikiran yang menurut saya “kuno” itu. Setidaknya Ibu saya yang masih yakin akan pemikiran itu, tapi tidak lagi bagi bapak saya. Semua itu bisa dengan jelas yang lihat dan dengarkan dari nasehat-nasehat beliau, bahkan sampai hari ini.

    Tidak salah memang jika orangtua menginginkan anaknya menjadi manusia yang lebih sukses daripada dirinya, bahkan itu harus, itulah tujuan mereka menyekolahkan kita bukan? Tetapi menurut saya, itu hanyalah salah satu cara untuk memperoleh kesuksesan itu sendiri. Jika acuan kesuksesan yang kita anut adalah tentang dimana Anda bekerja, seberapa tinggi jabatan Anda di dalam sebuah perusahaan, dan seberapa besar rumah dan tabungan di rekening Anda, maka silahkan ikuti pemahaman yang telah diberikan orangtua Anda.

    Bagi saya pribadi, ukuran kesuksesan dalam hal bekerja adalah dengan mengerjakan apapun yang saya senangi, saya bahagia mengerjakannya, dan saya tidur dengan nyenyak dan bangun dengan perasaan tenang walaupun satu jam kemudian saya harus berhadapan kembali dengan pekerjaan saya yang kemarin belum selesai. Itulah yang saya sebut sukses. Bagi saya pribadi, untuk apa menjadi seorang karyawan yang berpakaian rapi, disanjung-sanjung di lingkungan perumahannya, dielu-elukan oleh orangtua dan keluarganya, tetapi setiap pagi bangun dengan pundak dan bahu yang masih pegal, sarapan di satu meja makan tetapi tak pernah mendengarkan anak dan istrinya bercerita, pergi pagi dan pulang tengah malam, begitu sampai di rumah anak istri sudah terlelap, Anda datang ke rumah hanya untuk tidur beberapa jam dan kemudian bangun untuk menjalani lagi siklus yang sama setiap hari. Bagi saya itu bukan hidup yang saya inginkan. Keluarga tidak berjalan dengan baik jika terus seperti itu jalan ceritanya.

    Di pekerjaan saya yang terakhir, saya melihat dan mendengar sendiri teman-teman kerja saya mengeluh setiap hari. Setiap pagi percakapan di tempat kerja selalu diawali dengan mengeluhkan pekerjaan kemarin, suasana kantor, sikap-sikap atasan dan rekan kerja lainnya, bahkan sampai sepatu atau baju yang dikenakan tak luput jadi bahan perbincangan di ruang kerja waktu itu. Dari pengalaman mendengarkan dan menelaah keluhan-keluhan rekan kerja saya itulah saya semakin memupuk niat saya untuk bisa keluar dari pekerjaan saya yang lama, dan membangun usaha saya sendiri yang saya jalankan sendiri dan kerjakan sendiri dengan penuh sukacita dan rasa tulus dalam bekerja.

    Saat ini saya sudah bekerja di sebuah pekerjaan yang menurut saya bisa membahagiakan saya. Memang uang yang saya hasilkan dari pekerjaan ini tidaklah sebesar pekerjaan saya yang lama. Tetapi mengingat ukuran kesuksesan saya yang tidak pernah saya gantungkan pada jumlah uang yang saya bawa pulang, saya bahagia. Orangtua saya yang masih memegang persepsi-persepsi lama pada saat itu memang kurang mendukung pekerjaan baru saya. Mereka masih saya menyarankan saya untuk berusaha menjadi aparatur sipil negara, mendaftar di perusahaan-perusahaan yang menurut mereka bagus, bertanya ke sanak saudara lowongan-lowongan pekerjaan yang bisa saya isi. Kejadian yang sempat membuat saya terpukul adalah saat mereka merendahkan usaha saya yang sedang membangun sendiri bisnis kecil saya. Ibu saya bilang saya adalah “direktur tak ber-uang”, saya tertawa, tetapi batin saya kecewa. Awalnya saya marah, saya tidak terima, saya benar-benar kecewa dengan Ibu saya. Tetapi kemudian batin saya berbicara pada saya, “mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Saya terdiam, saya berusaha keras untuk memaafkan.

    Memang, pendapat saya ini tidak akan cocok untuk semua orang. Akan ada saja orang yang merasa saya meremehkan jabatan karyawan atau pegawai. Tapi saya mau Anda baca kembali opini ini dari awal, bukankah saya sudah bilang di awal, berkali-kali saya katakan: ini adalah pendapat saya pribadi. Jadi silahkan berpendapat yang lain jika memang menurut Anda itu yang paling benar. Silahkan. Saya hanya memberikan perspektif lain pada Anda. Kesuksesan itu punya banyak jalan dan salah satunya adalah dengan menjadi karyawan. Tetapi sekali lagi, itu hanya salah satunya. Saya ingin mengambil jalan yang berbeda dengan Anda. Coba tanyakan pada diri Anda sendiri, pada teman-teman sekerja Anda yang mungkin sering mengeluhkan pekerjaannya: “bahagiakah Anda di pekerjaan Anda sekarang? Jika tidak, lantas mengapa masih bertahan?” Jika Anda masih bahagia dengan pekerjaan Anda sekarang, berbahagialah, selamat, lanjutkan. Jika tidak bahagia, mengapa masih bertahan? Jika perkara hutang dan kepastian gajian yang Anda permasalahkan, itu berarti kita punya pemikiran yang berbeda tentang uang. Silahkan. Tidak ada benar dan salah dalam hal mempertahankan sebuah karir. Itu hak dan keputusan Anda sepenuhnya. Tetapi coba pikirkan kembali cara Anda menanamkan nilai bekerja dalam benar anak cucu Anda di masa depan nanti. Jika seandainya kalimat yang ada di awal paragraf ini tadi dapat saya ubah, alih-alih mengatakan“Sekolah yang rajin, yang pinter, biar nanti bisa kerja di perusahan yang bagus” mengapa tidak kita katakan “Sekolah yang rajin, yang pinter, biar nanti bisa bikin perusahan yang bagus.”

    Bagi pekerja keras di luar sana, semangat terus bekerjanya, selama kalian dan keluarga bisa berbahagia, kalian menang. Menang melawan ketidak harmonisan. Tetapi jangan lupa, waktu Anda, sisihkan untuk keluarga. Karena mereka butuh kehadiran Anda, bukan hanya uang dari Anda. Percayalah, saya dulu juga anak-anak yang mendambakan jalan-jalan bersama keluarga yang tidak selalu membicarakan soal pekerjaan.

    Bagi pejuang mimpi, yang tak mau hidup di bawah bayang-bayang intervensi, selamat menikmati kebebasan kalian. Bekerjalah dengan tulus, mengerjakan apapun yang membuat rasa penasaran kalian selalu haus. Jangan hanya memikirkan soal uang, burung di udara saja bisa hidup tanpa kau beri makan, maka jangan khawatir soal hari depan. Santai saja, hidup itu dijalani, bukan lari-lari. Jangan tergesa, perlahan usahamu untuk tetap bertahan pasti diganjar kesuksesan.

- Gitakara Ardhytama


Read More

Needs and Wants


    Sebagai seorang manusia, adalah wajar jika kita memiliki kebutuhan. Tua, muda, anak-anak, semunya memiliki kebutuhan. Bahkan hewan sekalipun. Abraham Maslow, seorang psikolog terkenal dari Amerika yang mencetuskan teori yang sangat terkenal: “Hierarchy of Needs” atau Teori Hirarki Kebutuhan. Di dalam teori itu Maslow menyatakan bahwa manusia memiliki 5 (lima) kebutuhan dasar dalam hidup. Kebutuhan-kebutuhan itu adalah: kebutuhan fisiologis, kebutuhan keselamatan dan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri. Sebenarnya, dalam mengemukakan teori itu Maslow menggunakan seekor monyet dalam observasinya. Pertanyaannya, apakah hidup se-simpel itu? Tentu tidak!

    Dalam prakteknya, jika kita lihat masyarakat dunia saat ini, khususnya orang Indonesia, keinginan untuk dapat tampil gaya mengalahkan segalanya. Pemenuhan kebutuhan dari hirarki Maslow tadi seolah dijadikan dalih untuk membenarkan perilaku hidup hedonis atau konsumtif. Kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri seolah lebih diutamakan daripada kebutuhan-kebutuhan yang lainnya. Gadget menjadi barang yang paling banyak dibeli oleh orang Indonesia selama tahun 2000-an. Argumen ini tentu tidak asal bicara. Menurut survei yang dilakukan oleh GFK Asia pada tahun 2013, Indonesia termasuk dalam peringkat pertama dalam hal pembelian smartphone terbanyak dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lain, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja dan Filipina. Dari total akumulasi nominal pembelian smartphone di seluruh dunia yang nilainya sebesar US$ 10,8 milyar, Indonesia menyumbangkan nilai sebesar US$ 3,33 milyar atau sekitar 31% dari total akumulasi nilai pembelian smartphone di dunia. Bisa dibayangkan, betapa kayanya orang-orang Indonesia jika hanya melihat data tersebut.

    Sebenarnya, jika ditarik mundur ke belakang, Indonesia sudah sejak lama dinobatkan menjadi negara paling konsumtif di dunia. Sejak tahun 1970-an Indonesia sudah terkenal akan budaya konsumtifnya. Bahkan ajaibnya, saat krisis global melanda Indonesia tahun 1998 dan krisis global tahun 2008, Indonesia seolah tidak terpengaruh dengan krisis moneter kala itu. Nilai belanja masyarakat Indonesia meningkat secara signifikan, baik di dalam maupun di luar negeri. Tak heran jika Indonesia adalah “lahan basah” bagi para importir barang-barang konsumtif dunia, karena pangsa pasar di Indonesia benar-benar amat sangat besar dan terus berkembang tiap tahunnya. Jika pada saat ini kita banyak sekali menemukan barang-barang "made in China", maka lain halnya dengan tahun 1970-an dulu. Pada tahun 1970-an pasar Indonesia dibanjiri oleh banyaknya barang-barang produksi Jepang. Mungkin karena hal itulah yang membuat seorang Bung Karno pada saat itu akhirnya mengumandangkan gagasan “BERDIKARI” (Berdiri di Atas Kaki Sendiri) pertama kalinya di Indonesia.

    Selama hidup, kita tentu memiliki banyak kebutuhan. Sadarkah Anda jika kebutuhan-kebutuhan itu semakin lama akan semakin bertambah dan semakin banyak lagi keinginan lainnya yang akan muncul seiring bertambahnya usia? Saat kita masih bayi, kita hanya butuh popok, baju, celana, susu, bubur dan perlengkapan bayi lainnya. Saat kita tumbuh menjadi anak-anak, kita membutuhkan pendidikan, alat tulis, buku-buku pelajaran, dan mainan-mainan. Saat kita beranjak remaja dan dewasa, mulai muncul kebutuhan-kebutuhan yang lebih besar dan lebih banyak. Kita butuh (atau ingin) pekerjaan, rumah, mobil, pendamping hidup, dll. Begitu seterusnya, kebutuhan kita bertambah seiring usia yang juga terus bertambah.

    Sebenarnya tidak ada yang salah jika kita ingin memenuhi semua kebutuhan kita, termasuk kebutuhan akan barang-barang konsumtif yang mungkin juga suatu saat dapat berguna untuk mendukung kehidupan serba modern dan cepat seperti sekarang. Apalagi jika kita kembali  berpatokan pada teori Maslow tadi, salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri. Tak dapat dipungkiri, sampai saat ini masyarakat kita masih berpegangan pada stereotipe-stereotipe kuno yang menganggap bahwa orang yang memiliki banyak barang mahal akan dianggap sebagai orang kaya. Anggapan itu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi yang diberikan gelar tersebut. Maka mereka yang mampu akan terus membeli barang-barang mewah, agar kebutuhan mereka untuk aktualisasi diri dapat terpenuhi. Tetapi hendaknya kita dapat membedakan mana yang merupakan “kebutuhan” (needs) dan mana yang sekedar “keinginan” (wants). Secara definisi kata saja dua hal itu sudah berbeda. Kebutuhan adalah barang yang memang dibutuhkan untuk menunjang pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, sedangkan keinginan adalah dorongan untuk dapat memiliki sesuatu yang bahkan kadang tidak direncanakan, atau dalam istilah ekonomi disebut Impulsif Buying. Definisi Impulsif Buying sendiri adalah perilaku seseorang yang membeli sesuatu tanpa direncanakan terlebih dahulu, pembeli seolah-olah "terbujuk" oleh teknik-teknik pemasaran atau iklan-iklan yang dilakukan oleh penjual. Maka tak jarang sebuah produk atau barang yang mereka beli sebenarnya tidak terlalu mereka butuhkan. Kita tidak boleh lupa, selain kebutuhan untuk dihargai dan aktualisasi diri, kita memiliki kebutuhan-kebutuhan lainnya seperti salah satu yang tak pernah terduga adalah kebutuhan akan biaya rumah sakit dan atau biaya sekolah kita atau anak-anak kita. Sebenarnya dalam teori yang dikemukakannya, Maslow juga berpendapat bahwa kita akan mendahulukan kebutuhan yang lebih penting untuk dipenuhi terlebih dahulu daripada kebutuhan yang lainnya. Atau jangan-jangan tanpa kita sadari kebutuhan primer masyarakat abad ini benar-benar sudah bergeser dari sebelumnya. Tanyakan itu pada diri kita sendiri. Masing-masing dari kita pasti sudah memiliki jawabannya masing-masing.

Sebuah pepatah lama berkata:
"Keinginan manusia itu seperti koin yang ia masukkan ke dalam sebuah karung dan ia bawa di punggungnya. Semakin banyak ia memiliki keinginan, maka semakin berat pula beban yang ia bawa di punggungnya."


Gitakara Ardhytama
Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda